Israiliyyat Dalam Hadis
Disusun Oleh: H. Ahmad Ridla Syahida, Lc., M.AgEmail: ridla.ars@gmail.com Dosen Prodi Pendidikan Bahasa Arab STAI Al-Ma’arif Ciamis A. Pendahuluan Dalam perjalanan sejarah umat islam Rasululllah Saw dipandang sebagai ‘wakil’ (representasi) Tuhan dimuka bumi ini, selain sebagai penyampai risalah nabawiyah, beliau juga bertugas sebagai mubayyin (penjelas) dari segala bentuk firman Tuhan baik yang tersurat maupun yang tersirat. Hal ini berimplikasi terhadap usaha/perjuangan para sahabat dalam mendokumentasikan dan merekam setiap hurup yang keluar dari petuah Rasulullah Saw. sekaligus menjaga keutuhan hadis dari segala bentuk ‘kotoran’ yang bisa menyebabkan terkontaminasinya ucapan Nabi dengan yang lainnya. Melihat begitu sakralnya kedudukan perkataan Nabi yang disampaikan baik secara verbal-aksi-kesepakatan maka para shahabat dan generasi berikutnya (para tabi’in) berusaha untuk menjaga posisi hadis dalam mizan asy-syari’ahdengan menfiltrasi masuknya berita-berita yang terindikasi bersumber dari Ahlul Kitab yang jauh dari akidah dan prinsip kesucian ajaran islam. Posisi islam sebagai agama penutup yang menjadi penyempurna syari’at agama yang datang sebelumnya. Agama yang membawa misi universalitas dan penyebar kedamaian ini merupakan risalah yang juga diemban oleh setiap para nabi sejak Adam sampai nabi akhir zaman; Muhammad Saw. Islam yang ketika lahir berada diantara agama samawi lainya: Yahudi dan Nasrani secara tidak langsung terjadi interaksi ideologi yang berimbas terhadap masuknya ajaran kedua agama tersebut kedalam islam. Rasulullah saw pun tidak menafikan keberadaan ajaran agama-agama samawi tersebut, sehingga sebagian ideologi yang dibawa oleh pengikut nya yang masuk islam, oleh Rasulullah diberi catatan dan dikomentari sebagaimana yang terjadi pada kasus puasa asyu’ra yang dilakukan oleh umat Yahudi yang hidup di Madinah pada sasat itu. Al-Quran yang memuat informasi kejadian orang-orang terdahulu pun dianggap belum memberikan kepuasan bagi sebagian para sahabat yang hidup pada masa Rasulullah ataupun para tabi’in dan tabi’ at-tabi’in yang hidup sesudah Rasulullah saw wafat. Sehingga membuat penasaran generasi selanjutnya untuk mencari berita kepada para pemeluk agama samawi atau Ahlul Kitab agar menjelaskan nash tersebut secara gamlang. Informasi Ahlul Kitab tersebut yang oleh para ulama disebut Israiliyyat dan di kategorikan sebagai ‘dakhil’paling berbahaya yang menyusup kedalam sumber ajaran islam:[1]tafsir dan hadis, yang mempunyai pengaruh sangat besar kedalam khazanah keislaman. Oleh karena itu penulis mencoba menguraikan problematika Israiliyyat khususnya yang ada dalam hadis, dari mulai latar belakang kemunculan hingga legalitas periwayatnya.[] B. Definisi Israiliyyat Jika menelusuri asal kata (إاسرائليات) maka kita akan menemukan bahwa kata tersebut merupakan bentuk plural dari kata mufrad (إسرائلية). Para ahli bahasa menjelaskan pengertian kata (إسرائيل) secara etimologi bahwa Israil berasal dari bahasa Ibrani yang tersusun dari kata (إسري) yang bermakna ‘abdun (hamba) atau shafwah(pilihan), kemudian kata (إيل) yang mempunyai makna Allah (Tuhan) sehingga arti dari kata israil adalah hamba Tuhan atau hamba pilihan.[2]Adapun yang dimaksud dengan Israil dalam konteks ini adalah Nabi Ya’qub ibn Ishaq ibn Ibrahim. Al-Quran sendiri dibeberapa tempat banyak menceritakan perihal orang-orang Yahudi dan menasabkanya kepada moyang mereka yaitu israil: Ya’qub ibn Ishaq ibn Ibrahim[3] Para ulama salaf tidak memberikan terminologi israiliyyat secara jelas dan lengkap. Sehingga membuat para ulama muta’akhirin mencoba untuk menguraikan pengertian israiliyyat secara jelas, diantaranya sebagai berikut: a. Adz-Dzahabi mendefinisikan Israiliyyat yaitu: هي قصة أو حادثة تروي عن مصدر إسرائلى. والنسبة فيها إلى إسرائيل, وهو يعقوب بن إسحاق بن إبراهيم أبو الأسباط الإثني عشر. Israiliyyat merupakan riwayat tentang kisah atau kejadian yang bersumber dari orang-orang bani israil, kata israil dinisbatkan kepada Ya’qub ibn Ishaq ibn Ibrahim yang merupakan moyang dari keturunannya yang berjumlah 12 orang.[4] b. Sebagian ulama mendefinisan nya sebagai berikut: § هذه الكلمة يهودية الأصل, وقد غلبت علي كل ما نقل من اليهودية إلى الإسلام وما نقل عن الأديان الأخرى إليه ايضا, ولكنها خصت بهذا الإسم لأن أغلب ما نقل عن اليهودية والأديان الأخرى كان طريقه ألئك الاسرائيليون Kata israiliyyat berasal dari Yahudi dan mencakup seluruh periwayatan yang datang terhadap Islam yang berasal dari Yahudi ataupun dari agama selainya. Akan tetapi pengkhususan penamaan tersebut dilakukan karena mayoritas periwayatan bersumber dari Yahudi sedangkan agama yang lainya jalan periwayatanya juga melalui orang-orang Yahudi (Bani Israil). § يطلق علماء المسلمين كلمة إسرائيليات على جميع العقائد غير الإسلامية ولاسيما تلك العقائد والأساطير التي دسها اليهود والنصارى في الدين الإسلامي منذ القرن الأول الهجري Para ulama menyebut istilah israiliyyat kepada seluruh ideologi yang bersumber dari luar islam, terutama ideologi dan cerita yang disusupkan oleh Yahudi dan Nasrani kedalam agama islam sejak abad pertama Hijriyah. § اسرائيليات اصطلاح أطلقه المدققون من علماء الإسلام علي القصص والاخبار اليهودية والصرانية التي تسربت إلي المجتمع الإسلامي بعد دخول جمع من اليهود والنصارى إلى الإسلام أو تظاهرهم بالدخول فيه Israiliyyat merupakan istilah yang disematkan oleh para pengkaji dari para cendikiawan muslim terhadap cerita-cerita dan berita-berita yang bersumber dari kaum Yahudi dan Nasrani yang menyusup kedalam komunitas islam setelah masuknya islamnya sekelompok orang-orang dari golongan Yahudi dan Nasrani.[5] Pengertian diatas mempunyai kedekatan dari segi makna walaupun diantaranya saling melengkapi. Kemudian dalam hal ini Para ulama mengungkap istilah israiliyyat kepada pemahaman yang lebih luas, bahwa israiliyyat tidak hanya mencakup kepada riwayat yang bersumber dari Ahlul kitab; Yahudi dan Nasrani, namun israiliyyat merupakan semua jenis ‘dakhil’; berita, kisah dan cerita yang diriwayatkan dan bersumber dari luar ajaran islam, terutama riwayat yang didalam nya mengadung unsur kebohongan dan penistaan terhadap ajaran islam. C. Proses Masuknya Israiliyyat kedalam Islam Jika membuka buku sejarah maka akan nampak bagaimana tsaqafah bangsa Yahudi sudah ada wujudnya di wilayah semenanjung Arab sebelum diutusnya Muhammad Saw sebagai Rasul. Orang-orang Yahudi sebelum pengutusan sudah ada yang menenpati wilayah Yaman sehingga geliat keagamaan yang dilakukan bangsa Yahudi bisa terlihat, seperti kelompok Yahudi yang berasal Bani Nadhir, Khaibar dan Quraidhah menjadi bukti keberadaan agama tersebut. Adapun wilayah utara Arab terdapat penduduk wilayah Madinah Al-Hirah dan Imarah Al-Ghasāsinah yang merupakan kerajaan Kristen Arab kuno di Levant dimana mereka menjadi komunitas Kristen Awal penutur bahasa Yunani. Al-Quran pun merekam jejak perjalanan bangsa Quraisy pada masa Jahiliyah dalam melakukan perjalanan pada waktu musim dingin dan panas (QS Quraisy:1-4) keluar wilayah Makkah, Dengan adanya proses interaksi tersebut secara alamiah memungkinkan terjadinya persinggungan tsaqafah diantara bangsa Quraisy dengan Ahlul kitab. Walaupun efek dari proses asimilasi tersebut tidak terjadi dalam frekwensi yang besar melihat kultur budaya Arab yang tidak terlalu melek dengan peradaban bangsa luar. Ketika Allah mengutus seorang Rasul terakhir penutup para Nabi pembawa rahmat bagi